Pages

Tampilkan postingan dengan label tokoh arsitek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh arsitek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

"Mohammad Danisworo" Ahli Menata Kota

Sekitar 50 tahun yang lalu, udara kota Bandung masih sejuk. Di sana sini pepohonan rindang setia menghiasi kota. Di taman kota, tepatnya di Taman Maluku, meluncur seorang pemuda bersama sepeda kumbang dengan asiknya. Siapa dia? Rupanya seorang mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) yang hendak menuju jalan Ganesha, kampus tempat dia menimba ilmu.

Pendapatnya, bersepeda di dalam kota saat itu bukanlah soal. Suasana masih mendukung para pengguna sepeda atau pejalan kaki. Jalan belum dipadati kendaraan bermotor. Pusat pertokoan seperti Braga masih menghargai ruang bagi pejalan kaki. Hutan kota pun masih ada. “Bahkan di Taman Maluku, saat itu saya masih melihat rusa berkeliaran,” kisahnya.

Setengah abad telah berlalu. Rusa itu lenyap entah kemana. Pejalan kaki tersudutkan haknya di trotoar. Jalanan berlubang. Papan reklame telah merangsek kota. Pemandangan menjadi sumpek. Pemuda bersepeda kumbang tadi bukan mahasiswa lagi. Pria yang bernama Mohammad Danisworo itu telah menjelma menjadi seorang profesor dan mengajar di ITB, tempatnya menimba ilmu dulu.

Pengalaman indah Bandung masa silam begitu melekat dan mempengaruhi warna arsitektur Danisworo. Filosofinya, hidup di perkotaan perlu berwawasan lingkungan, fungsional, dan secara visual harus sedap dipandang mata. Tiga faktor inilah yang hingga sekarang digunakan Danisworo untuk mengaplikasikan ilmunya di bidang arsitektur. Bahkan, melalui karya-karyanya, dia dikenal sebagai arsitek perkotaan atau populer dengan sebutan urban arsitektur.

Filosofi sebuah kota bagi Danis panggilan singkatnya tak terlepas dari pengalaman dia bersama dosennya, Prof Hasan Purbo. Purbo memberi pemahaman kepada Danis bahwa sebuah gedung tak berdiri sendiri. Ada dua faktor lingkungan yang memberi banyak pengaruh terhadap keindahan arsitektur itu sendiri, yakni lingkungan fisik dan non-fisik. Lingkungan fisik, jelas berkisah dengan sesuatu yang tampak seperti beton, pohon, dan benda lainnya. Lingkungan non-fisik harus mampu menampung secara sinergi kekuatan sosial dan budaya.
Yang non-fisik ini, menurut Danis, sering dilupakan arsitek masa kini.

Banyak gedung dan jalan dibangun hanya berorientasi pada mobil saja. Hasilnya? Jangan salahkan kantung-kantung pedagang kaki lima (PKL) dan pejalan kaki yang berjalan hampir mepet ke jalan raya. Jangan salahkan pula bila ada kantung-kantung kumuh di kolong jembatan, bahkan di tempat parkir gedung pencakar langit muncul komunitas sosial para sopir dan penjual makanan minuman yang berkesan tak kalah kumuhnya. “Itu semua karena mereka yang sering dituduh kumuh tidak mendapat tempat dalam rancangan arsitek kebanyakan. Padahal, jika ditata sejak awal, persoalan klasik perkotaan seperti itu tidak akan terjadi,” katanya.

Faktor selanjutnya adalah visual. Tiap karya arsitektur pasti disyaratkan bercita rasa seni. Enak dipandang atau bahkan dinikmati dengan cara lain. Faktor visual memegang peranan yang tak kalah penting dan menjadi penarik hati manusia. “Tapi faktor ini sangat subjektif,” ujarnya.

Faktor fungsional dalam desain urban juga tak kalah pentingnya. Katanya, untuk apa membangun sesuatu yang ternyata tidak berguna dan tak sesuai dengan kebutuhan. Ini akan sia-sia. Jika dilihat tata kota sekarang, banyak kota seperti di Bandung yang bangunannya kehilangan arti fungsional.

Lihat saja trotoar sempit nun kumuh yang habis disikat pedagang kaki lima. Lihat pula tepi jalan yang dikerumuni parkir mobil penghasil asap. Walhasil, kawasan Kosambi Bandung dan Cicadas misalnya, terkenal dengan kemacetan dan polusinya. Sejatinya, dalam konsep Danisworo, ruang kota harus ditata secara harmonis dan tidak terlalu berorientasi pada penggunaan mobil, misalnya membuat jalan yang lebar dan saking lebarnya, harus mengalahkan ruang trotoar. Pejalan kaki atau pedestrian perlu juga diberi hak menikmati karya arsitektur dengan nyaman dan aman. Selama ini, pejalan kaki selalu tersisihkan haknya. “Menurut saya ini tak adil,” katanya.

Untuk itu, Danis memberi resep yang dapat menyenangkan para pejalan kaki. Dalam konsepnya, lebar trotoar setidaknya berlebar lima meter. Itu belum termasuk pohon di tengah-tengahnya. Jika konsep ini diterapkan secara konsisten, kenyamanan bagi semua level kelas sosial akan terjamin. Si empunya mobil bisa namyan berkendaraan, si pejalan kaki pun semakin sehat saja karena penghijauan dan ruang yang segar. Pedagang kaki lima juga leluasa berjualan karena tersedia ruang yang ideal untuknya.

Mewujudkan trotoar lebar memang tak mudah bagi sebuah kota yang telah terbentuk dengan trotoar sempit. Tapi bukan berarti menyerah. Salah satu pengalamannya, Danis dan timnya pernah membujuk para pemilik halaman rumah di jalan Satrio, Jakarta, untuk merelakan sebagian ruas halamannya untuk dijadikan trotoar, dan berhasil. Konsepnya, tidak mengambil alih. Kepemilikan masih di tangan pemilik rumah.

Begitu pentingnya arti trotoar, menurut Danis, pemilik lahan harus diberi pengertian yang lebih mendalam. Kalau perlu diberi bonus. Misalnya, supaya pemilik lahan lebih tertarik, bagi mereka yang menyediakan tanah untuk ruang publik berupa pelebaran trotoar yang indah, akan diberi hadiah dari pemerintah berupa pembebasan pajak atau keringanan lainnya. “Tapi ini baru usulan,” ujar Danis.

Para pejalan kaki memang mendapat porsi yang cukup besar dalam konsep urban design yang disodorkan Danis. Sektor formal dan informal layaknya pedagang kaki lima harus bisa hidup berdampingan tanpa masalah seperti saat ini. Sektor formal pun dikritisinya. Lihatlah kota-kota besar, misalnya Bandung. Di sana ada kota yang digempur pesan-pesan iklan atau propaganda sebuah produk atau jasa. Bandung, yang dulu masih memungkinkan bagi rusa untuk hidup di taman kota, kini luluh lantak tanpa aturan jelas. Jalan Juanda, misalnya, dipadati papan reklame. Billboard di jembatan penyeberangan dipasang dengan seenaknya. Dengan scenario urban design yang ditawarkannya, Bandung dan juga kota-kota di Indonesia yang mempunyai permasalah serupa akan tetap indah meski telah berubah menjadi sebuah kota bisnis yang hiruk pikuk.

Mohammad Danisworo lahir di Semarang, 2 April 1938. Ilmu arsitekturnya dipetik dari ITB (1965). Dia juga meraih banyak gelar dari universitas di luar negeri seperti Special Program in Urban Studies, University of Kentucky, USA (1966), Master of Architecture, major in Urban Designe, University of California, Berkley, Amerika (1968), Master of Urban Planing, with Certificate in Urban Designe, University of Washington, Seatle, USA (1982). Ia juga meraih gelar Doktor of Philosophy (Ph.D) dari Urban Environmental Planning, University of Washington, Seatle, USA (1984).

Senior partner PT Encona Engineering Incorporation ini memang sangat serius menggarap arsitektur urban. Karyanya yang cukup dikenal, diantaranya adalah Stasiun Gambir, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, dan Terminal Pelabuhan Udara Makassar. Dia juga menggarap pembangunan di bekas lapangan udara Kemayoran, Jakarta Pusat, yang dikatakannya sangat ideal. Kawasan itu disulap dengan skenario yang menguntungkan segala lapisan masyarakat: pejalan kaki, pedagang kaki lima dan pengendara mobil. Kemayoran akan dibuat beberapa blok berdasarkan jalan yang sudah ada. Di dalam blok itu dibangun gedung-gedung dengan trotoar selebar 10 meter yang akan menjadi dambaan pejalan kaki.

Beberapa gedung atau lokasi strategis dibuat saling berjauhan, jadi memikat setiap orang untuk menjelajah dari satu lokasi ke yang lain. Konsep ini mengingatkan kita pada konsep tata ruang Jakarta yang dicetuskan Soekarno saat membangun Jakarta, seperti penempatan bundaran Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno, Monas dan Masjid Istiqlal yang simetris. Penataan seperti itu dipindahkan pula ke kawasan Kemayoran. Dengan demikian, jalan tidak akan sepi. Tetap bernuansa lingkungan dan teduh karena ada sebagian dinding gedung melindungi pejalan kaki dari sengatan matahari. Di antara blok ada ruang publik, tempat para pedagang kaki lima. Di sana juga dibuatkan sesuatu yang menarik pejalan kaki. Konsep ini, menurut Danis, diyakini akan menggoda pengguna mobil untuk memarkirkan kendaraannya dan memilih berjalan di dalam blok yang menyenangkan itu. (TEMPO)

BIODATA "ZAHA HADID"

Hadid lahir pada tahun 1950 di Baghdad, Irak. Dia menerima gelar di bidang matematika dari Universitas Amerika di Beirut sebelum pindah untuk belajar di Sekolah Dasar Arsitektur Arsitektur di London. Setelah lulus dia bekerja dengan mantan guru-nya, Rem Koolhaas dan Elia Zenghelis di Kantor untuk Metropolitan Arsitektur, menjadi mitra pada tahun 1977. Itu adalah dengan Koolhaas bahwa dia bertemu dengan insinyur Peter Rice yang memberi dukungan dan dorongan awal, pada saat pekerjaannya sepertinya sulit untuk membangun.

Pada tahun 1980 ia mendirikan praktek sendiri yang berbasis di London. Selama tahun 1980-an ia juga mengajar di Arsitektur Asosiasi. Dia juga mengajar di lembaga bergengsi di seluruh dunia, ia memegang Kenzo Tange Kursi di Graduate School of Design, Harvard University, Ketua Sullivan di University of Illinois di Chicago School of Arsitektur, profesor tamu pada Hochschule für Bildende Künste di Hamburg, Knowlton Sekolah Arsitektur, di Universitas Negeri Ohio, Studio Master di Columbia University, New York dan Profesor Tamu Eero Saarinen Desain Arsitektur di Yale School of Architecture, New Haven, Connecticut. Selain itu, ia diangkat sebagai Anggota Kehormatan American Academy of Arts dan Sastra dan Fellow Kehormatan dari Institut Arsitek Amerika. Dia telah berada di Dewan Pembina Yayasan Arsitektur. Saat ini ia adalah Profesor di University of Applied Arts Vienna di Austria.

Pemenang dari kompetisi internasional, secara teoritis berpengaruh dan inovatif, sejumlah desain Hadid menang pada awalnya tidak pernah dibangun: terutama, The Peak Club di Hong Kong (1983) dan Cardiff Bay Opera House in Wales (1994). Pada tahun 2002 Hadid memenangkan kompetisi desain internasional untuk desain masterplan Singapura satu-utara. Pada tahun 2005, desain-nya memenangkan kompetisi untuk kasino kota baru Basel, Swiss. Pada tahun 2004 Hadid menjadi penerima wanita pertama dari Pritzker Architecture Prize, setara arsitektur tentang Hadiah Nobel. Sebelumnya, ia telah dianugerahi CBE untuk jasanya kepada arsitektur. Dia adalah anggota dewan redaksi Encyclopædia Britannica. Pada tahun 2006, Hadid mendapat kehormatan dengan retrospektif mencakup seluruh pekerjaan-nya di Museum Guggenheim di New York. Pada tahun itu ia juga menerima Gelar Kehormatan dari Universitas Amerika di Beirut.

Perusahaan desain arsitektur Zaha Hadid - Zaha Hadid Architects - adalah lebih dari 350 orang yang kuat, yang berkantor pusat di London.

Pada tahun 2008, ia peringkat 69 dalam daftar Forbes dari "100 Dunia Wanita Paling Kuat". Pada tanggal 2 Januari 2009, ia menjadi editor tamu pagi radio BBC program unggulan berita, Today.

Pada tahun 2010 dia juga diberi nama oleh majalah Time sebagai pemikir berpengaruh di TIME 2010 100 masalah.

Hadid adalah desainer dari Dongdaemun Desain Plaza & Taman di Seoul, Korea Selatan, yang diharapkan akan menjadi pusat dari perayaan untuk sebutan kota ini sebagai Modal Desain Dunia 2010. Kompleks ini dijadwalkan akan selesai pada tahun 2011.

PENGHARGAAN

Sabtu, 27 April 2013

BIOGRAFI & Pemikiran "Pradono"

Budi Pradono, Lahir tanggal 15 Maret 1970 di Salatiga. 1995 Menyelesaikan studinya di jurusan arsitek, Universitas Duta Wacana Christian, Jogjakarta.1995-1996 Bekerja di Beverley Garlick Architects PTY. LTD. Sydney- Australia. 1996-1999 Bekerja di PT. International Design Consultants (IDC), Jakarta – San Francisco. 1999-sekarang Bekerja di Budi Pradono Architects, Jakarta. 2002 Menyelesaikan gelar master di Berlage Institute, Rotterdam, Netherlands. 2000-2002 sebagai project architect pada Kengo Kuma & Associates, Tokyo-Japan.
Konsep ‘green architecture’ atau arsitektur hijau menjadi topik yang menarik saat ini, salah satunya karena kebutuhan untuk memberdayakan potensi site dan menghemat sumber daya alam akibat menipisnya sumber energi tak terbarukan. Berbagai pemikiran dan interpretasi arsitek bermunculuan secara berbeda-beda, yang masing-masing diakibatkan oleh persinggungan dengan kondisi profesi yang mereka hadapi. Salah satunya konsep 'green' oleh Budi Pradono, seorang arsitek yang sudah dikenal di mancanegara dengan berbagai award internasional yang sudah diraihnya.

Saat menjelaskan tentang green design, Budi Pradono menggunakan contoh-contoh dari desain yang ia hasilkan, baik yang menurutnya ‘green’ atau ‘tidak green’. Profesi arsitek dewasa ini menuntut kita untuk melihat ‘green’ sebagai kesatuan dalam desain bangunan, dimana sekarang ini banyak award khusus diberikan pada bangunan yang ‘green’ dengan berbagai kriteria.

‘Green’ dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly (ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik). Ukuran 'green' ditentukan oleh berbagai faktor, dimana terdapat peringkat yang merujuk pada kesadaran untuk menjadi lebih hijau. Di negara-negara maju terdapat award, pengurangan pajak, insentif yang diberikan pada bangunan-bangunan yang tergolong 'green'.

Profesi arsitek saat ini sedang mengalami tekanan yang kuat untuk melakukan perubahan besar dalam metode merancang dan juga melakukan absorbsi teknologi yang cepat agar dapat menghasilkan rancangan yang kontemporer yang berorientasi pada Arsitektur Hijau (green architecture), yang lebih tanggap pada isu-isu lingkungan. Saat ini Best Practice selalu dikaitkan dengan etika arsitek dalam mengantisipasi pemanasan global, penghematan energy, dan pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung-jawab. (Budi Pradono)

Yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana mendesain sebuah bangunan yang 'green' sekaligus memiliki estetika bangunan yang baik? Karena bisa saja bangunan memiliki fasilitas yang mendukung konsep green, namun ternyata secara estetika terlihat kurang menarik. Dalam hal ini, peran arsitek menjadi penting. Standar bangunan yang 'green' juga bisa menuntut lebih banyak dana, karena fasilitas yang dibeli agar bangunan menjadi 'green' tidak murah, misalnya penggunaan photovoltaic (sel surya pembangkit listrik). Teknologi agar bangunan menjadi 'green' biasanya tidak murah.

Indikasi arsitektur disebut sebagai 'green' jika dikaitkan dengan praktek arsitektur antara lain penggunaan renewable resources (sumber-sumber yang dapat diperbaharui, passive-active solar photovoltaic (sel surya pembangkit listrik), teknik menggunakan tanaman untuk atap, taman tadah hujan, menggunakan kerikil yang dipadatkan untuk area perkerasan, dan sebagainya.

Konsep 'green' juga bisa diaplikasikan pada pengurangan penggunaan energi (misalnya energi listrik), low energy house dan zero energy building dengan memaksimalkan penutup bangunan (building envelope). Penggunaan energi terbarukan seperti energi matahari, air, biomass, dan pengolahan limbah menjadi energi juga patut diperhitungkan.

Arsitektur hijau tentunya lebih dari sekedar menanam rumput atau menambah tanaman lebih banyak di sebuah bangunan, tapi juga lebih luas dari itu, misalnya memberdayakan arsitektur atau bangunan agar lebih bermanfaat bagi lingkungan, menciptakan ruang-ruang publik baru, menciptakan alat pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya.

Budi Pradono menjelaskan tentang konsep 'green' dalam rancangannya melalui contoh, misalnya pada rancangan Bloomberg Office, dimana diterapkan desain yang mendukung pencahayaan alami dapat bermanfaat untuk keseluruhan lantai kantor, penggunaan alat yang dapat mendeteksi cahaya alami untuk mengurangi penggunaan pencahayaan buatan, yang merupakan salah satu contoh efisiensi pencahayaan.

Pada 'K-house' yang dirancangnya untuk rumah mungil dengan 3 orang penghuni dan 5 ekor anjing, konsep arsitektur hijau diterapkan pada rancangan desain yang dibuat agar anjing-anjing tidak mudah lepas dan mengganggu tetangganya. Rumah ini mengetengahkan konsep rumah 'kandang' dengan jeruji-jeruji besinya, yang didesain dengan artistik sehingga menghilangkan kesan kandang dan menimbulkan artikulasi arsitektur baru dengan estetika yang unik.

Ahmett Salina Studio di Jakarta Selatan adalah salah satu rancangan dimana open space ditambahkan agar ruang hijau didepan bangunan lebih luas dan dapat digunakan bersama dengan tetangga-tetangganya. Rumah ini juga 'menggunakan dinding tetangga' untuk penghematan resource, serta memanfaatkan elemen bambu untuk secondary skin yang dapat menetralisir panas matahari.

AA house di Cipinang, Jakarta Timur dikonsep dengan keleluasaan ruang-ruang untuk saling overlap satu sama lainnya. Ruang tamu dan musholla dapat dibuka dan mencairkan ruang lebih luas. Roof garden dibuat pada tiap lantai hingga atapnya.

Dari konsep-konsep desain tersebut, terdapat upaya Budi Pradono untuk menghadirkan 'green design' dalam rancangan arsitekturnya, dimana letak 'green' pada tiap bangunan bisa berbeda sesuai dengan tuntutan dan kondisi yang ada. (astudioarchitect.com)

"EIFFEL" Sang Perancang Menara Paris



Apa yang kita kenal dari Prancis? Menara Eiffel? Ya. Prancis memang masyhur oleh menara yang pada mulanya didirikan sekedar untuk dijadikan simbol Paris, ibu kota Prancis, tapi di kemudian hari menara ini sangat diperlukan bagi kepentingan aviasi dan meteorologi. Tapi tahukah kita siapa arsitek di balik pendirian Eiffel?
Adalah Gustave Eiffel, yang punya gagasan mendirikan menara yang terletak di pusat kota Paris. Dibangun sebagai menara yang dapat dijadikan simbol pada Pameran Dunia dan perayaan Revolusi Perancis, menara dengan bendera yang berkibar di puncaknya itu kemudian diresmikan pada 31 Maret 1889.
Saat itu, tak semua orang bersorak-sorai atas pendirian menara. Kecaman dan protes keras datang dari penduduk Paris dan kalangan intelektual, bahkan telah terjadi sepanjang pembangunannya. Menara yang menghabiskan dana jutaan dolar AS itu dianggap sebagai pemborosan dan lambang kecongkakan. Apalagi, saat itu Prancis dan negara-negara lain di dunia sedang mengalami krisis. Eiffel menjadi kurang populer.

Tapi Gustave berusaha meyakinkan pemerintah dan masyarakat Prancis bahwa menara itu tak sekedar sebuah simbol, melainkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai penelitian meteorologi, radiotelegrafi dan aerodinamika, termasuk radio dan kegiatan aviasi. Ringkasnya, sepuluh tahun setelah menara itu diresmikan, kegiatan radio yang pertama sudah dapat dimulai. Eugene Ducreate, yang bekerja di pusat penelitian di Pantheon, Paris, menerima sinyal yang pertama dari Eiffel.
Gustave Eiffel membangun menara Eiffel dibantu oleh, antara lain, para insinyur Maurice Koechlin dan Emile Nouguier serta Stephen Sauvestre sebagai arsitek. Rencana proyek itu dimulai pada 1884. Pembanguanannya sendiri dimulai pada 1887 dan selesai 26 bulan kemudian. Sesuai rencana, menara ini akan dirobohkan setelah berlangsungnya pekan Pameran Dunia 1900. Akan tetapi, berkat argumentasi Gustave mengenai aneka kegunaan yang dapat dipetik dari menara itu, terutama setelah percobaan awal transmisi radio yang dikendalikan oleh Angkatan Bersenjata Prancis, menara Eiffel akhirnya berhasil dipertahankan.
Gustave banyak belajar mengenai angin dan cuaca sebelum mendirikan menara Eiffel, termasuk teknik pendulum. Hal ini berguna agar menara dapat berdiri kokoh, tetap tegak meski dihantam badai dan hujan lebat sekalipun. Selain itu, Gustave juga banyak mempelajari teknik konstruksi karena menara ini membutuhkan kerangka yang rigid dan kuat.
Untuk itu, Gustave merancang besi baja yang dikaitkan dalam bentuk persilangan yang diperkuat dengan 2,5 juta buah paku. Kerangka Gustave terbukti tahan dari serangan angin dan walaupun bahannya dari besi, berat menara hanya 7.300 ton. Pada mulanya, ketinggian menara dari tanah sampai tiang bendera tingginya 312.27 meter. Saat ini, ketinggian menara menjadi mekar hingga 324 meter karena di atasnya terdapat antena televisi. Banyak perusahaan televisi Prancis yang memanfaatkan Eiffel sebagai tempat memasang alat transmisi, hal ini menjadi pembuktian lain tentang betapa menara ini memiliki banyak kegunaan di kemudian hari.
Saat ini menara Eiffel dimiliki oleh Pemerintah Daerah Paris dan dikelola perusahaan swasta, Société Nouvelle de l'Exploitation de la Tour Eiffel. Kerangka besinya direnovasi setiap tujuh tahun sekali dan warnanya diputar dengan 50 ton cat. Renovasinya digarap oleh pekerja yang menguasai olah raga alpinis dan akrobatis. Agar menara tampil cantik, menara itu kini diterangi oleh 352 projektor berkekuatan 1.000 watt dan berkedip setiap setengah jam pada malam hari, dengan 20.000 bola lampu dan 800 lampu disko. Supaya lebih hidup, 4 lampu laser xenon berkekuatan 6.000 watt berputar secara permanen di puncak menara.
Alexandre Gustave Eiffel lahir di Dijon, Prancis, pada 1832. Ia memetik pendidikan formalnya di Ecole Centrale des Arts et Manufactures, Paris, pada 1855 dan bergabung dengan perusahaan Belgia dengan spesialisasi peralatan kereta api. Ia mulai berdikari dan mendirikan firma sendiri pada 1864, setelah memantapkan kariernya sebagai engineer-contractor. Atas dedikasinya di dunia konstruksi dan rancang bangun, Eiffel dikenal sebagai master konstruksi berat. Sepanjang kariernya, ia banyak membangun jembatan dan pembangunan berkonstruksi besi lainnya, termasuk Menara Eiffel. Gustave Eiffel meninggal di Paris pada 1923. (TEMPO) 

histat